Wasiat Ayah untukmu, Anakku...
Ini adalah sebuah kisah wasiat seorang ayah. Dan setiap kita adalah ayah bagi anak-anak kita, dan mereka akan menjadi ayah bagi anak-anak mereka. Nasihat penuh hikmah ini akan berulang dari generasi ke generasi, membawa pesan Birrul Walidain, ibadah yang amat agung dalam ajaran Islam.
Menemani orang tua di masa senja bukan sekadar kewajiban membalas budi yang takkan pernah lunas, melainkan cermin ketulusan jiwa. Kesabaran menghadapi keterbatasan fisik, ingatan yang memudar, dan sifat yang kembali menyerupai kanak-kanak adalah wujud bakti tertinggi—sebuah pengingat bahwa kehangatan yang kita nikmati hari ini lahir dari kekuatan yang perlahan sirna dari tubuh ayah-ayah kita.
Berikut wasiat seorang ayah kepada anaknya:
Wahai putraku tersayang, di suatu hari nanti engkau akan melihatku menjadi seorang yang tua renta dan tindak tandukku seringkali tidak masuk akal. Pada saat itu, tolong berikan aku sedikit waktu dan sedikit kesabaran agar engkau bisa memahami diriku.
Ketika tanganku gemetar lalu suapan makanan jatuh ke dadaku. Ketika aku tidak sanggup lagi mengenakan pakaianku. Bersabarlah kepadaku. Ingatlah tahun-tahun yang telah silam saat aku menyuapimu, mengajarimu memakai baju dan hal-hal yang sekarang aku tidak sanggup lagi melakukannya.
Jika aku berbicara kepadamu dengan kata-kata yang berulang dan aku sering menceritakan berulang-ulang kenangan-kenanganku kepadamu. Maka janganlah marah dan bosan. Betapa sering, kala masa kecilmu dulu, aku mengulang cerita dan kisah untukmu hanya karena itu membahagiakanmu dan engkau selalu memintanya dariku. Maka maafkanlah, dan cobalah untuk tidak menyela kata-kataku sekarang.
Jika aku tak lagi berpenampilan rapi dan beraroma wangi. Maka jangan salahkan aku, dan ingatlah di masa kecilmu dulu: aku berusaha untuk membuatmu tampil rapi dan beraroma wangi.
Anakku,
Jangan tertawakan aku jika engkau melihat ketidaktahuanku dan ketidakpahamanku akan hal-hal baru di era kalian ini. Jadilah engkau mataku dan pikiranku agar aku bisa mengejar apa yang terlewat olehku.
Akulah yang mendidikmu dan akulah yang mengajarimu bagaimana menghadapi kehidupan, lalu bagaimanakah engkau mengajariku apa yang harus dan apa yang tidak boleh?
Jangan bosan dengan lemahnya ingatanku serta lambatnya kata-kata dan pikiranku saat berbicara denganmu. Karena kebahagiaanku di dalam percakapan ini hakekatnya ada dalam kebersamaan bersamamu semata.
Bantulah aku untuk memenuhi apa yang aku butuhkan, karena aku masih tahu apa yang aku inginkan.
Ketika kedua kakiku tak mampu membawaku ke tempat yang aku inginkan. Bersikaplah penuh kasih sayang kepadaku. Ingatlah bahwa di saat kecilmu aku telah sering memegang tanganmu, menuntunmu agar engkau bisa berjalan.
Maka jangan pernah malu untuk memegang tanganku hari ini, karena besok engkau akan mencari orang yang memegang tanganmu di usia seperti usiaku ini.
Aku tahu bahwa aku tidak lagi bersemangat menghadapi kehidupan sepertimu, melainkan aku hanya sedang menunggu kematian. Maka bersamalah denganku, jangan menjadi anak yang menentangku.
Ketika engkau mengingat sesuatu dari kesalahan-kesalahanku, ketahuilah bahwa aku tidak pernah menginginkan apa pun selain kebaikanmu. Dan hal terbaik yang dapat engkau lakukan bersamaku saat ini adalah memaafkan kesalahan-kesalahanku dan menutup aib-aibku. Semoga Allah mengampunimu dan menutup aibmu.
Tawa dan senyumanmu masih tetap membahagiakanku persis seperti saat engkau masih kecil, maka jangan halangi aku dari kebersamaanmu.
Dan yang terakhir, aku senantiasa bersamamu saat engkau dilahirkan, maka bersamalah denganku saat aku dijemput kematian.
—---
Bila seorang ayah dalam wasiatnya hanya memohon secuil waktu, kesabaran, dan genggaman tangan anak kandungnya di penghujung usia, renungkanlah betapa dalamnya luka yang dirasakan oleh para ayah di bumi Palestina hari ini.
Di tanah yang terkoyak itu, ribuan orang tua dan bapak-bapak lansia tidak lagi memiliki tangan seorang anak untuk digenggam. Putra-putra terbaik yang dahulu mereka timang, mereka bimbing langkah pertamanya, dan mereka doakan masa depannya, telah mendahului mereka sebagai syuhada.
Rumah-rumah tempat mereka menua bersama kenangan telah luluh lantak menjadi puing dan debu. Kini, di balik terpal-terpal tenda pengungsian yang dingin, berdebu, dan koyak oleh angin, para orang tua ini duduk dalam kesunyian yang menyayat hati—menatap kehampaan, memikul duka kehilangan yang melampaui batas ketahanan manusia, sambil menanti giliran ajal menjemput di tengah keterasingan.
Mari buka nurani dan luaskan cinta kita. Bagi kita yang masih memiliki orang tua, dekap dan muliakanlah mereka selagi hembusan napas masih menyertai. Dan bagi para bapak serta lansia di Palestina yang telah kehilangan segalanya, jadikan doa-doa tulus, bantuan nyata, serta suara kepedulian kita sebagai pengganti pelukan dan genggaman tangan anak-anak mereka yang telah tiada. Jangan biarkan mereka melalui sisa usia yang getir ini sendirian di balik dinginnya tenda pengungsian.
#Kisah #Moakhat #Persaudaraan #Persahabatan #Palestina
www.kisah.moakhat.com